Minggu, 24 Oktober 2010

Kutilang Tanpa Cemara

Saat dengar berita tentang bencana alam terutama tentang bencana tanah longsor dan banjir di negeriku Indonesia, aku langsung terenyuh mungkinkah tanah dan perbukitanku kini tak lagi ada lagi penyangga pepohonan akibat pembalakan atau perambahan liar para pengusaha HPH atau penduduk sekitar perbukitan,berita bencana banjir di perkotaan yang katanya akibat keserakahan atas nama pembangunan yang tak mengindahkan tatanan keharmonisan alam,begitu banyak situ atau rawa sebagai penampungan air dimusim hujan di perkotaan berubah fungsi jadi hunian atau pusat perbelanjaan, penyempitan aliran sungai, hingga penyedotan air tanah yang berlebihan oleh gedung - gedung pencakar langit yang nyaris menenggelamkan ibu kota kita tercinta yang lagi ramai di beritakan belakangan ini. Tata kelola yang serabutan di perkotaan tanpa mengindahkan keseimbangan alam kerap di tuding jika banjir menyerang penduduk kota, atau mungkin kita gelap mata tak peduli tentang keseimbangan antara alam dalam pembangunan hingga semua diterjang demi hal – hal yang sipatnya keuntungan pribadi atau kelompok sipatnya,entahlah,... namun semua itu senantiasa mulai terjawab ketika musim hujan datang yang kemudian disambut dengan banjiir yang kadang – kadang bisa menenggelamkan satu perumahan di pinggiran ibu kota, bahkan mungkin kelak ketika berekreasi ke perbukitan kita tak dapat melihat lagi kutilang berbunyi karena tak ada lagi pohon cemara tumbuh hijau di bukit tempat burung kutilang bertenduh karena telah ditebang secara serampangan oleh manusia hingga burung tersebut tak bisa berkembang biak dan bersarang meneruskan generasi penerusnya disana,. Hingga kita nanti mungkin hanya melihat kutilang tanpa cemara dan tak lagi bernyanyi trala- trili lagi yang terdengar,melainkan senadung kesedihan yang bersiul lirih,...........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar