Pohon cery itu tumbuh di belakang bangunan beton diatumbuh dengan anggun dalam kesendirian, ia tumbuh mungkin tak sengaja di bawa burung pemakan biji, ia besar di himpitan hutan beton dilahan bekas rawa atau ladang yang dulunya menghijau di kota penyangga ibukota itu, ini bisa terlihat dari aliran sungai yang ada di belakang hutan beton itu yang banyak dilalui sodetan kali buatan manusia bukan kali alam yang tercipta sengaja. pohon cery itu tumbuh di lantai beton parkiran gedung menjulang yang telah retak dan berlubang mungkin juga akibat tergerus hujan yang airnya berusaha menyerap ke tanah , yang tanahnya tertutup lapisan beton yang tak berpori. Pohon cery itu tampak sabar menghijau sendirian di belantara gedung dan ruko - ruko yang angkuh tak bersenergi dengan alam, tampak di pohon cery itu beberapa burung gereja dan burung pipit yang mungkin berusaha bertahan diantara gempuran kemajuan kota yang penuh dengan polusi asap debu, ia tenang dihinggapi dan menyambut ramah kawanan burung itu, ia biarkan burung itu bertengger di dahan - dahan yang berayun di tiup angin yang gersang mungkin dia bisa bercengkrama akrab dengan mereka dibanding dengan manusia yang katanya punya rasa dan akal namun kadangkala tak bisa menempatkan pada porsinya, mungkin
sekarang manusia lebih mementingkan diri sendiri, untuk sekarang tampa berfikir yang akan datang. Atas nama kemajuan atau keserakahan hingga Manusia lupaa berharmonisasi dengan Alam dan terus mengabaikan, hingga Alam akan memberi peringatan baik dengan teguran halus atau dengan murka hingga manusia tersadar dari kekeliruaan mengabaikan alam atas nama kemajuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar